Selasa, 01 Mei 2012

Warisan budaya

TEMA :WARISAN BUDAYA JUDUL :INDAHNYA MENJAGA WARISAN BUDAYA SENDIRI PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Di jaman moderenisasi ini,banyak warisan budaya yang sejak dulu sudah ada malah di jaman sekarang ini sudah banyak orang yang lupa akan warisan budaya,padahal kalau kita semua mampu melestarikan budaya kita sendiri itu akan makin indah,karna dapat di kombinasi dengan moderenisasi.di Indonesia ini sangat banyak dan macam-macam warisan budayanya,karna warisan budaya itu yang menjadi ciri kas suatu Negara. TUJUAN Tujuan dari ini semua adalah agar kita sebagai penerus bangsa harus bisa melestarikan dan menjaga warisan budaya yang sudah kita miliki selama ini.karna dengan kita menjaga dan melestarikannya kita akan merasa bangga dan kagum,karna betapa indahnya warisan budaya kita ini.agar kelak budaya kita tidak di akuin oleh Negara lain,maka dari itu kita harus melestarikan dan menjaganya. ISI/PEMBAHASAN Disini saya akan membahas tentang budaya jawa tengah.jawa tengah adalah propinsi dimana budaya jawa banyak berkembag disini karena di jawa tengah dahulu banyak kerajaan berdiri disini itu terlihat dari berbagai peninggalan candi di jawa tengah. yang sungguh mempesona adalah batik di jawa tengah setiap daerah mempunya corak batik tulis yang berbeda beda mereka mempunyai ciri khas sendiri sendiri selain batik ada juga kesenian yang tak kalah luar biasanaya ada wayang kulit yang sudah dia kaui dunia sebagai warisan budaya dunia oleh unesco ada juga tembang tembang (lagu lagu ) jawa yang diiringi oleh gamelan (alat musik) yang juga dikenal dengan campursariada juga ketoprak yang merupakan pertunjukan seni peran khas dari jawa di jawa tengah juga masih ada kerjaan yang samapai sekarang masih berdiri tepatnya dikota solo yang dikenal dengan kasunanan solo.budaya jawa tengah sungguh banyak mulai dari wayang ,wayang orang, ketoprak,tari dan masih banyak lagi. Kebudayaan yang ada di wilayah Provinsi Jawa Tengah mayoritas merupakan kebudayaan Jawa, namun terdapat pula kantong-kantong kebudayaan Sunda di wilayah sebelah barat yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat terutama di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap.ada banyak budaya-budaya jawa seperti,kraton solo,batik,ketoprak,pagelaran wayang kulit,tari srikandi,pertunjukan wayang orang,sinden,tayub,dan keris.itulah budaya-budaya jawa yang begitu indah,yang harus di jaga dan di lestarikan. KESIMPULAN Dari ini semua kita dapat menyimpulkan bahwa warisan budaya itu harus kita jaga dan kita lestarikan.karna dengan cara itu kita mampu melindungi budaya-budaya kita yang banyak agar tidak di akui oleh Negara-negara lain. SARAN Sebagai penerus bangsa kita semua harus mampu menjaga dan melestarikan seluruh budaya-budaya yang dimiliki oleh Negara Indonesia ini.agar Negara kita menjadi Negara yang memiliki beragam budaya dan suku bangsa yang harus kita jaga,supaya Negara kita menjadi Negara yang asri. DAFTAR PUSTAKA Isomwebs.com,pandu,kusuma,Indahnya menjaga warisan budaya sendiri,Bekasi,2012

Kamis, 19 April 2012

Rangkuman teori kepemimpinan

Teori Kepemimpinan

Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sekarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan Hersey menambahkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok. Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.
Genetic Theory
Pemimpin adalah dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya.
Traits theory
Teori ini menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik, dan kemampuan sosial. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut judith R. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam:
- Kemampuan Intelektual
- Kematangan Pribadi
- Pendidikan
- Statuts Sosial Ekonomi
- Human Relation
- Motivasi Intrinsik
- Dorongan untuk maju
Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api, angin, angkasa, bulan, matahari, bintang.
Behavioral Theory
Karena ketyerbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui trait, para peneliti mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti perilaku pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Konsepnya beralih dari siapa yang memiliki memimpin ke bagaimana perilaku seorang untuk memimpin secara efektif.
a. Authoritarian, Democratic & Laissez Faire
Penelitian ini dilakukan oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an. Mereka mengemukakan 3 tipe perilaku pemimpin, yaitu authoritarian yang menerapkan kepemimpinan otoriter, democratic yang mengikut sertakan bawahannya dan Laissez - Faire yang menyerahkan kekuasaannya pada bawahannya.


b. Continuum of Leadership behavior.
Robert Tannenbaum dan Warren H Schmidt memperkenalkan continnum of leadership yang menjelaskan pembagian kekuasaan pemimpin dan bawahannya. Continuum membagi 7 daerah mulai dari otoriter sd laissez - faire dengan titik dengan demokratis.

c. Teori Employee Oriented and Task Oriented Leadership - Leadership style matrix.
Konsep ini membahas dua orientasi kepemimpinan yaitu
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan dimana perilaku pemimpinnya dalam penyelesaiannya tugasnya memberikan tugas, mengatur pelaksanaan, mengawasi dan mengevaluasi kinerja bawahan sebagai hasil pelaksanaan tugas.
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai akan ditandai dengan perilaku pemimpinnya yang memandang penting hubungan baik dan manusiawi dengan bawahannya.
Pembahasan model ini dikembangkan oleh ahli psikologi industri dari Ohio State University dan Universitas of Michigan. Kelompok Ohio mengungkapkan dua dimensi kepemimpinan, yaitu initiating structure yang berorientasi pada tugas dan consideration yang berorientasi pada manusia. Sedangkan kelompok Michigan memakai istilah job-centered dan employee-centered.

d. The Managerial Grid
Teori ini diperkenalkan oleh Robert R.Blake dan Jane Srygley Mouton dengan melakukan adaptasi dan pengembangan data penelitian kelompok Ohio dan Michigan.
Blake & Mouton mengembangkan matriks yang memfokuskan pada penggambaran lima gaya kepemimpinan sesuai denan lokasinya.
Dari teori-teori diatas dapatlah disimpulkan bahwa behavioral theory memiliki karakteristik antara lain:
- Kepemimpinan memiliki paling tidak dua dimensi yang lebih kompleks dibanding teori pendahulunya yaitu genetik dan trait.
- Gaya kepemimpinan lebih fleksibel; pemimpin dapat mengganti atau memodifikasi orientasi tugas atau pada manusianya sesuai kebutuhan.
- Gaya kepemimpinan tidak gifted tetapi dapat dipelajari
- Tidak ada satupun gaya yang paling benar, efektivitas kepemimpinan tergantung pada kebutuhan dan situasi
Situational Leadership
Pengembangan teori ini merupakan penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan teori yang ada sebelumnya. Dasarnya adalah teori contingensi dimana pemimpin efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkan secara tepat.
Empat dimensi situasi secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap kepemimpinan seseorang.
- Kemampuan manajerial : kemampuan ini meliputi kemampuan sosial, pengalaman, motivasi dan penelitian terhadap reward yang disediakan oleh perusahaan.

- Karakteristik pekerjaan : tugas yang penuh tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat, tingkat kerjasama kelompok berpengaruh efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik organisasi : budaya organisasi, kebijakan, birokrasi merupakan faktor yang berpengaruh pada efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik pekerja : kepribadian, kebutuhan, ketrampilan, pengalaman bawahan akan berpengaruh pada gaya memimpinnya.
VROOM YETTON
Vroom-Yetton-Jago Normatif Keputusan Model membantu kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Model ini mengidentifikasi lima gaya yang berbeda (mulai dari otokratis ke konsultatif ke grup berbasis keputusan) pada situasi & tingkat keterlibatan. Mereka adalah:
Otokratis Tipe 1 (AI) – Pemimpin membuat keputusan sendiri dengan menggunakan informasi yang tersedia bagi Anda pada saat itu. Tipe ini benar-benar otokratis.
Tipe otokratis 2 (AII) – Pemimpin mengumpulkan informasi yang diperlukan dari pengikutnya, lalu membuat keputusan sendiri. Masalah atau keputusan mungkin atau mungkin tidak diberitahukan kepada pengikutnya. Di sini, keterlibatan pengikut hanya memberikan informasi.
Konsultatif Tipe 1 (CI) – Pemimpin masalah saham pengikut yang relevan secara individual dan mencari ide & saran mereka dan membuat keputusan sendiri. Sini pengikut ‘tidak bertemu satu sama lain & keputusan pemimpin mungkin atau mungkin tidak memiliki pengaruh pengikut. Jadi, di sini adalah keterlibatan pengikut pada tingkat memberikan alternatif secara individual.
Konsultatif Tipe 2 (CII) – Pemimpin masalah saham yang relevan sebagai kelompok pengikut dan mencari ide & saran mereka dan membuat keputusan sendiri. Di sini pengikut ‘bertemu satu sama lain dan melalui diskusi mereka memahami alternatif lain. Tapi keputusan pemimpin mungkin atau mungkin tidak memiliki pengaruh pengikut. Jadi, di sini adalah keterlibatan pengikut pada tingkat membantu sebagai suatu kelompok dalam pengambilan keputusan.
Kelompok berbasis Type 2 (GII) – Pemimpin mendiskusikan masalah & situasi dengan pengikut sebagai kelompok dan mencari ide-ide mereka & saran melalui brainstroming. Pemimpin menerima keputusan & jangan coba memaksa gagasannya. Keputusan diterima oleh kelompok yang terakhir.
KONTINGENSI FIELDER
Model Kepemimpinan Kontingensi. Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh Fielder. Fielder dalam Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja. Menurut model kepemimpinan ini, terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Ketiga variabel utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota); kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas); dan kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi).
Berdasar ketiga variabel utama tersebut, Fiedler menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak menguntungkan sekalipun; para pemimpin yang berorientasi pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan.
Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut, pendapat Fiedler cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin. Namun perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum yang berbeda.
PATH & GOAL THEORY
The Path-Goal Theory of Leadership yang dikembangkan untuk menggambarkan cara para pemimpin yang mendorong dan mendukung para pengikut mereka dalam mencapai tujuan, mereka telah ditetapkan dengan membuat jalan yang mereka harus jelas dan mudah.
Secara khusus, para pemimpin:
* Memperjelas jalan jadi bawahan tahu jalan mana yang harus pergi.
* Hapus penghalang jalan menghentikan mereka yang pergi ke sana.
* Meningkatkan penghargaan di sepanjang rute.
Pemimpin dapat mengambil pendekatan yang kuat atau terbatas pada ini. Dalam menjelaskan jalan, mereka mungkin direktif atau memberikan petunjuk samar. Dalam memindahkan penghalang jalan, mereka dapat menjelajahi jalur atau membantu memindahkan pengikut blok yang lebih besar. Dalam meningkatkan penghargaan, mereka dapat memberikan dorongan atau kadang-kadang membuka jalan dengan emas.
Variasi dalam pendekatan ini akan tergantung pada situasi, termasuk pengikut kemampuan dan motivasi, serta kesulitan dari pekerjaan dan faktor-faktor kontekstual lainnya.
Rumah dan Mitchell (1974) menggambarkan empat gaya kepemimpinan:
Mendukung kepemimpinan
Mengingat kebutuhan pengikut, menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan mereka dan menciptakan lingkungan kerja yang bersahabat. Ini termasuk pengikut meningkatkan harga diri dan membuat pekerjaan lebih menarik. Pendekatan ini adalah yang terbaik ketika pekerjaan stres, membosankan atau berbahaya.
Kepemimpinan direktif
Mengatakan pengikut apa yang perlu dilakukan dan memberi bimbingan yang tepat di sepanjang jalan. Hal ini termasuk memberi mereka jadwal kerja spesifik yang harus dilakukan pada waktu tertentu. Hadiah mungkin juga akan meningkat sesuai dengan kebutuhan dan ambiguitas peran menurun (dengan mengatakan kepada mereka apa yang mereka harus lakukan).
Ini dapat digunakan jika tugas yang tidak terstruktur dan kompleks dan pengikut tidak berpengalaman. Hal ini akan meningkatkan rasa pengikut keamanan dan kontrol dan karenanya sesuai dengan situasi.
Kepemimpinan partisipatif
Konsultasi dengan pengikut dan mengambil ide-ide mereka ke account user ketika membuat keputusan dan mengambil tindakan tertentu. Pendekatan ini yang terbaik adalah ketika para pengikut ahli dan saran mereka adalah baik diperlukan dan mereka berharap untuk dapat memberikannya.
Kepemimpinan berorientasi prestasi
Menetapkan tujuan yang menantang, baik dalam pekerjaan dan dalam perbaikan diri (dan sering bersama-sama). Standar yang tinggi ditunjukkan dan diharapkan. Pemimpin menunjukkan kepercayaan pada pengikut kemampuan untuk berhasil. Pendekatan ini adalah yang terbaik ketika tugas kompleks.

Kamis, 12 April 2012

ARTIKEL KEPEMIMPINAN

ARTIKEL KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukanya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman, ahli pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari perannya memberikan pengajaran/instruksi.
Ciri-ciri Seorang Pemimpin
Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Ciri-ciri pemimpin berkarakter Sebagai berikut:
1. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan kekuatan diri dan kelemahan dan usaha untuk memperbaikinya.
2. Pemimipin harusnya berempati terhadap bawahannya secara tulus.
3. Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya.
4. Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.
5. Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya.
6. Memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya.
7. Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat " team work ", kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas.

Jenis dan Macam Gaya Kepemimpinan :

1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.

Kamis, 29 Maret 2012

Demokrasi indonesia penuh dengan keanarkisan

TEMA :Demokrasi
JUDUL :Demokrasi Indonesia penuh dengan keanarkisan
BAB 1.
PENDAHULIUAN
-Latar belakang

Seperti yang kita ketahui demonstrasi merupakan salah satu contoh budaya politik konvensional,dimana kita dapat mengungkapkan aspirasi kita secara bebas, namun biasanya demonstrasi ini dilakukan apabila cara konvensional tidak menemukan jalan keluar. Namun seiring dengan perkembangan jaman terkadang sering sekali di negara kita tercinta Indonesia ,demonstrasi diwarnai dengan keanarkisan para demostrannya.
-Tujuan

Agar kita semua harus lebih mengetahui apa arti demokrasi,dan kita dapat membedakan demokrasi yang menguntungkan dan merugikan buat kita semua terutama untuk Negara.supaya Negara kita menjadi Negara yang lebih baik dari sebelumnya.

BAB 2.

-Isi

Anarkisme pada saat melakukan demostrasi memang sangat merugikan berbagai pihak, selain banyak berjatuhan korban , juga banyak dari para demostran yang merusak fasilitas negara, sebenrnya apa saja faktor penyebab keanarkisan ini membludak? Pertama-tama banyak sekali para demonstran yang datang dari kaum berpendidikan, tapi mengapa mereka malah terkadang merusak fasilitas negara? Bukankah mereka semua adalah kaum yang berpendidikan dan tentunya pasti tahu, apa akibat dan kerugian merusak dan bersikap anarkisme. Memang, dengan bersikap sedikit ‘brutal’ bisa membuat pemerintah mendengarkan aspirasi kita, tapi bukankah lebih baik jika kita benar-benar melakukan demonstrasi dengan cara yang teratur, selain tidak menimbulkan kerugian, kita juga bisa mencontohkan kepada generasi-generasi selanjutnya bahwa Demonstrasi bukan lah budaya politik yang harus dilaksanakan dengan anarkisme. Bisa dibayangkan jika semua menganggap demonstrasi merupakan suatu budaya politik yang mencerminkan keanarkisan para demonstran, padahal demonstrasi sebenarnya lumrah dilakukan karena diperbolehkan bagi pemerintah, tapi seharusnya kita sebagai kaum muda apalagi yang merupakan kaum yang berpendidikan yang telah mendapat pendidikan tinggi seharusnya memberi contoh pada generasi-generasi selanjutnya agar kelak nanti jika ingin mengungkapkan aspirasi , pengungkapannya harus dalam bentuk demonstrasi yang teratur atau sejenisnya,sering sekali saya melihat di tv atau media
sejenisnya, banyak para demonstran tersebut menghacurkan fasilitas negara seperti telepon umum, dll. Mungkin merusak seperti itu dikiranya akan merugikan pemerintah dan pemerintah akan bertinda lebih lanjut, padahal fasilitas-fasilitas seperti itu bukankah diperuntukan bagi masyarakat? Toh juga masyrakat kita sendiri yang menggunakannya. Jika itu dirusak bukankah pemerintah harus mengeluarkan lagi biaya untuk meperbaikinya? Biaya itu datang darimana? Ya tentu dari pajak –pajak yang kita bayarkan ke pemerintah, jadi intinya kalo merusak hal hal seperti itu toh nantiyajuga uang kita sendiri yang digunakan untuk mengganti. Jadi selain memberikan contoh yang buruk, kita juga tak langsung dirugikan .selain itu tak sedikit tindakan demonstrasi yang anarkis menyebabkan kematian karena kebrutalannya sendiri, ingin mengungkapkan aspirasi malah jadi korban, bukankah menjadi mati sia-sia jika mati dengan cara seperti itu? jadi bukankah lebih baik kalau demonstrasi dilakukan dengan teratur dan tertib sehingga kita mampu mengungkapkan aspirasi dan suasana yang tercipta jadi lebih aman.

BAB 3.
PENUTUP
-Kesimpulan
Marilah kita semua bangsa Indonesia mulai merubah sikap cara berdemokrasi kita selama ini,jauhkan sifat-sifat keanarkisan dan tumbuhkan sifat-sifat bijaksana.bangunlah citra bangsa dengan kedamain dan keselarasan agar bangsa kita menjadi bangsa yang lebih baik kedepannya.
-Saran
Masayarat dan pemerintah harus sering bermusyawarah dalam pengambilan segala keputusan,apalagi menyangkut Negara,dan pemerintah harus sigap dalam membantu masyarakat agar tidak ada lagi kesalah pahamman dan tidak ada lagi demokrasi yang anarkis.

Daftar Pustaka
Kristina,ana,anarkisme dalam demostrasi,Jakarta,2010.
Kusuma,pandu,Demokrasi Indonesia penuh dengan keanarkisan,Bekasi,2012.

Rabu, 28 Maret 2012

Perilaku antar kelompok dan manajemen konflik.

Manajemen Konflik : Cara Mengelola Konflik secara Efektif
Dalam interaksi dan interelasi sosial antar individu atau antar kelompok, konflik sebenarnya merupakan hal alamiah. Dahulu konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya. Dari pandangan baru dapat kita lihat bahwa pimpinan atau manajer tidak hanya wajib menekan dan memecahkan konflik yang terjadi, tetapi juga wajib untuk mengelola/memanaj konflik sehingga aspek-aspek yang membahayakan dapat dihindari dan ditekan seminimal mungkin, dan aspek-aspek yang menguntungkan dikembangkan semaksimal mungkin.
Penyebab Konflik
Konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
A. Faktor Manusia
1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.
2. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.
3. Timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.
B. Faktor Organisasi
1. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya.
Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.
2. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi.
Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.
3. Interdependensi tugas.
Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.
4. Perbedaan nilai dan persepsi.
Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior men¬dapat tugas yang ringan dan sederhana.
5. Kekaburan yurisdiksional. Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.
6. Masalah “status”. Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.
7. Hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen.
Akibat-akibat Konflik
Konflik dapat berakibat negatif maupun positif tergantung pada cara mengelola konflik tersebut.
Akibat negatif
• Menghambat komunikasi.
• Mengganggu kohesi (keeratan hubungan).
• Mengganggu kerjasama atau “team work”.
• Mengganggu proses produksi, bahkan dapat menurunkan produksi.
• Menumbuhkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
• Individu atau personil menga-lami tekanan (stress), mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustrasi, dan apatisme.

Akibat Positif dari konflik:
• Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis.
• Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.
• Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan per-baikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
• Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.
• Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.
Cara atau Taktik Mengatasi Konflik
Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana. Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.
Diatasi oleh pihak-pihak yang bersengketa:
Rujuk: Merupakan suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama.
Persuasi: Usaha mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.
Tawar-menawar: Suatu penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara eksplisit.
Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.
Penarikan diri: Suatu penyelesaian masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri dari hubungan. Cara ini efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak perlu berinteraksi dan tidak efektif apabila tugas saling bergantung satu sama lain.
Pemaksaan dan penekanan: Cara ini memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah; akan lebih efektif bila salah satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena salah satu pihak hams mengalah dan menyerah secara terpaksa.

Intervensi (campur tangan) pihak ketiga:
Apabila fihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.
Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.
Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.
Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.
Hal-hal yang Perlu Diperhati-kan Dalam Mengatasi Konflik:
1. Ciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif.
2. Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.
3. Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.
4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.
5. Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.
6. Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.
7. Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.
8. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.
Sumber : Majalah Eksekutif Edisi Februari 1987.

Selasa, 20 Maret 2012

rangkuman

ORGANISASI

Didalam mata perkuliahan perilaku keorganisasian, terdapat bab yang membahas tentang perilaku organisasi, perilaku individu dalam organisasi, dan interpersonal, dalam penulisan kali ini saya ingin menjelaskan tentang struktur oganisasi, baik itu pengertiannya, elemen, serta contohnya.

Sebelumnya, mari kita lihat apa itu perilaku organisasi, perilaku individu, dan interpersonal itu sendiri.

Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkat kelompok, serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).
Dasar-dasar perilaku individu

Dalam ilmu management, seorang manager harus mengetahui perilaku individu. Dimana setiap individu ini tentu saja memiliki karakteristik individu yang menentukan terhadap perilaku individu. Yang pada akhirnya menghasilkan sebuah motivasi individu.

Karakteristik individu dalam organisasi antara lain :

Karakteristik biografis

1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Status kawin
4. masa kerja

Kemampuan

1. kemampuan fisik
2. kemampuan intelektual

Kepribadian
Proses belajar
Persepsi
Sikap
Kepuasan kerja


Perilaku Individu dalam organisasi antara lain :

Produktifitas kerja
Kepuasan kerja
Tingkat absensi
Tingkat turnover

Interpersonal

Interpersonal Skill merupakan salah satu dari soft skill yang banyak diminta oleh perusahaan untuk berbagai jabatan dan posisi.

Sudahkah Kamu memiliki ketrampilan ini? Silakan simak beberapa poin berikut:

Interpersonal Skill bukan merupakan bagian dari karakter kepribadian yang bersifat bawaan, melainkan merupakan ketrampilan yang bisa dipelajari.

Interpersonal Skill yang baik dapat dibangun antara lain dari kemampuan mengembangkan perilaku dan komunikasi yang asertif.

Asertif secara sederhana berarti mampu secara aktif menyatakan gagasan, harapan atau perasaan (baik yang positif atau negatif) secara langsung dan apa adanya, tanpa menyerang atau merugikan orang lain.
Berlaku asertif yang tampaknya mudah ini seringkali menjadi ekstra sulit dalam situasi konflik atau situasi di mana terjadi perbedaan kepentingan antar individu dalam suatu kelompok/organisasi.

Prinsip-prinsip dasar perilaku atau komunikasi yang asertif antara lain adalah menghargai hak orang lain untuk menyampaikan gagasan atau pendapat, untuk didengarkan dan diperlakukan dengan penuh respek serta untuk berbeda pendapat.

Perilaku atau komunikasi asertif membantu kita untuk mendapatkan citra positif tentang diri sendiri dan orang lain, mengembangkan saling respek dengan orang lain, membantu kita mencapai tujuan, melindungi diri kita agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain sekaligus tidak melukai orang lain.

Perilaku atau komunikasi asertif bertujuan untuk mencapai win-win solution, di mana masing-masing pihak yang berinteraksi dapat merasakan kepentingannya terakomodir tanpa merasa dikalahkan atau berkurang harga dirinya.

Orang-orang yang asertif biasanya ekspresif dan jujur, bila berbicara langsung ke inti permasalahan, tidak mudah terpancing emosinya, berorientasi pada solusi serta dihargai dan menghargai orang lain.

Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal.

Rabu, 07 Maret 2012

Minimnya pengetahuan tentang norma-norma kehidupan bagi masyarakat

Tema :seberapa pentingnya mata kuliah kewarganegaraan bagi manusia
Judul :minimnya pengetahuan tentang norma-norma bagi kehidupan masyarakat
PENDAHULUAN

Latar belakang
Minimnya tingkat kesadaran masyarakat tentang seberapa pentingnya pengetahuan tentang norma-norma kehidupan bagi masyarakat/manusia.pada zaman sekarang ini kita hidup itu penuh dengan persaingan dalam hal apapun.pendidikan,pendidikan itu suatu modal utama untuk bersaing dizaman yang sekarang ini,bukan hanya itu tapi juga di butuhkan keterampilan,wawasan,serta pengetahuan agar kita dapat mampu bersaing di dunia pendidikan maupun di dunia pekerjaan.sekolahan itu adalah lembaga pendidikan formal yang utama agar kita dapat mengetahui dan diajarkan tentang pengembangan pengetahuan,melatih kemampuan,dan masih banyak lagi yang bisa kita dapatkan dan ketahui.masih banyak masyarakat yang belum menyadari seberapa pentingnya pendidikan formal itu.dengan kurangnya kesadaran tentang hal tersebut kita akan menjadi masyarakat yang minim pengetahuanan,kurangnya ketrampilan,serta kurangannya keahlian dan wawasan yang akan menyebabkan/berdampak masyarakat terbelakang/tertinggal dengan perubahan zaman yang sudah modern ini.

TUJUAN
Tujuannya adalah untuk memberi pemahaman seberapa pentingnya kita harus mengetahui tantang norma-norma kehidupan,dan seberapa pentingnya manfaat dari pendidikan formal maupun nonformal agar kita dapat menjadi masyarakat yang memiliki prilaku serta intelektual yang tinggi,agar kelak kedepannya kita semua dapat menjadi masyarakat yang bermanfaat dan berguna untuk siapa saja.

ISI/PEMBAHASAN
Perlunya masyarakat menyadari tentang norma-norma kehidupan dan perlunya pendidikan formal dan nonformal,untuk kita mengetahui tentang norma-norma kehidupan itu,semua itu bisa didapatkan/diperoleh dari pendidikan formal dan nonformal,seperti pendidikan formal kita akan di ajarkan tentang bagaimana cara bertutur kata yang baik dan berprilaku sopan dan kita juga bisa mendapatkan pengetahuan,keterampilan,serta wawasan yang dapat membentuk kita menjadi masyarakat yang memiliki pribadi yang baik.dengan pendidikan formal tersebut kita juga bisa menjadi masyarakat sosial yang baik dan serta dapat menghargai dan dihargai oleh orang lain.pendidikan formal itu tidak akan berjalan baik kalau tidak ada dukungan dari pendidikan nonformal.karna pendidikan nonformal itu mengajarkan kita tentang bagaimana cara berakhlak dengan baik serta menjadi manusia yang taat kepada tuhannya.kalau kita hanya mementingkan pendidikan formal,kita hanya bisa mendapatkan intelektual yang tinggi saja,tapi kita tidak bisa mendapatkan akhlak yang baik,maka dari itu kita dianjurkan bukan hanya kita melakukan pendidikan formal,tapi kita juga harus belajar pendidikan nonformal.karna didalam pendidikan nonformal itu kita bisa mendapatkan/mengetahui tantang baik buruknya prilaku,halal dan haramnya,serta masih banyak lagi yang kita ketahui.contoh masyarakat yang tidak memiliki pembekalan pendidikan nonformal adalah masyarakat yang selalu bertindak tanpa pikir panjang positif dan negatifnya.di zaman yang sekarang ini banyak tindakan kriminalitas yang terjadi dimana-mana tanpa memandang apapun seperti pembunuhan,penipuan,perampokan bahkan pemerkosaan dan pelecehan seksual,tindakan itu semua dikarenakan tideak adanya pembekalan agama dari kecil dan tidak diajarkan untuk memilih mana yang baik dan yang tidaknya.maka dari seberapa pentingnya juga pendidikian nonformal,karna pendidikan formal itu harus di barengi dengan pendidikan nonformal agar kita menjadi pribadi masyarakat yang ber intelektual tinggi dan memiliki akhlak yang baik.karna di dunia ini mudah untuk mencari orang yang pintar dan cerdas,tapi sulit mencari orang yang jujur,itu semua di karenakan tidak adanya keseimbangan antara pendidikan formal dan nonformal.

PENUTUP

KESIMPULAN
Dari ini semua kita dapat menyimpulkan betapa pentingnya mata kuliah kewarganegaraan itu untuk kehidupan manusia,karna di dalam ilmu itu kita dapat mengetahui tentang seberapa pentingnya pendidikan formal dan nonformal,agar masyarakat kita dapat menjalankan norma-norma dalam kehidupannya supaya kita semua menjadi masyarakat yang berguna dan berjasa untuk siapapun serta menjadi pribadi yang memiliki intelektual dan akhlak yang baik.

SARAN
Masyarakat di haruskan agar secepatnya menyadari betapa pentingnya pendidikan serta pengetahuan,agar kita semua dapat mensejahterakan diri sediri,orang lain bahkan negara sekalipun
DAFTAR PUSTAKA
Kusuma,pandu,minimnya pengetahuan tentang norma-norma kehidupan bagi masyarakat,Bekasi,2012.